Friday, 19 January 2018

Lembaga Kajian Maritim Apresiasi Program Penyetaraan Dosen Kelautan

Sunday, 26 February 2017 15:39
Rate this item
(1 Vote)
Untung Budiarso, Direktur Lembaga Kajian Maritim Untung Budiarso, Direktur Lembaga Kajian Maritim

BodjongPolitan, Semarang - Lembaga Kajian Maritim (LKM) mengapresiasi langkah  Kemenristekdikti yang akan segera menerbitkan peraturan tentang Penyetaraan Dosen dari kalangan industri. Penyetaraan ini dana artinya bisa disetarakan dengan S2 yaitu melalui pelaksanaan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) yang menurut rencana akan diberlakukan mulai bulan Maret.

 

"Kebijakan ini menjadi salah satu cara untuk mengatasi persoalan tenaga dosen di sekolah pelayaran. Hambatan ini sudah bertahun-tahun dialami oleh prodi Nautika dan Teknika adalah tenaga dosen yang linier sangat minim karena semua berasal dari mantan pelaut," papar Untung Budiarso, Direktur Lembaga Kajian Maritim.

 

Menurutnya,  selama ini persyaratan dosen harus S2. Dengan diberlakukanya Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) diharapkan akan mampu meningkatkan kualitas lulusannya karena tenaga dosen dari kalangan industri yang belum S2, karena pengalamanya, bisa menjadi dosen yg setara S2.

 

"Pemerintah juga harus segera merevitalisasi sarana dan prasarana agar kualitas dosen sebagaimana yang diharapkan dari penerapan RPL bisa berkorelasi positif," tutur pria berkacamata yang juga Sekretaris Muay Thai Jawa Tengah ini.

 

Ditambahkan juga, banyak sekali praktisi pelaut yang memiliki pengalaman dan tidak bisa menjadi dosen karena terhalang oleh ketentuan dosen harus S2.

 

Disisi lain, masih menurut Untung Budiarso, program tol laut yang digagas oleh Presiden Jokowi akan bisa terlaksana secara maksimal jika lembaga penyedia SDM pelaut, yaitu sekolah pelayaran  memiliki standarisasi yang memadai.

 

"Standarisasi tersebut adalah sarana prasarana, standarisasi dosen dan standarisasi kurikulum, hal ini penting karena lulusan sekolah pelayaran juga harus memenuhi standar dari IMO (International Maritime Organization)," pungkas Untung Budiarso. (BP-901)

Read 173 times