Friday, 19 January 2018

Tujuh Anggota Satpol PP Melakukan Tindakan Asusila

Thursday, 02 March 2017 10:33
Rate this item
(2 votes)
Ilustrasi: anggota Satpol PP saat melakukan latihan kesamaptaan Ilustrasi: anggota Satpol PP saat melakukan latihan kesamaptaan

BodjongPolitan, Semarang - Tujuh pegawai Satpol PP dilaporkan ke Inspektorat karena bertindak asusila. Mereka diduga telah melakukan pelecehan dengan cara menggerayangi dada dan alat vital temannya, pegawai Satpol PP perempuan.

 

Awalnya Satpol PP Kota Semarang menggelar Latihan Kesamaptaan. Berlatih fisik semacam outbond dengan gemblengan mental melalui "jurit malam" di kawasan dingin Candi Gedongsongo Kabupaten Semarang, mulai tanggal 3 hingga 4 Februari 2017. 

 

Ketika memasuki sesi Jurit Malam itulah, ada tujuh pegawai honorer Satpol PP perempuan yang disuruh membuka pakaiannya. Ketujuh pegawai honorer itu serta merta menolak. Hingga akhirnya para pelaku berpura-pura kesurupan, kemudian berpura-pura membersihkan pakaian korban dengan menggerayangi bagian dadanya, dan organ vital lainnya.

 

Ada dua korban yang sudah melapor secara resmi ke institusinya. Masing-masing berinisial Noc dan Ran. Karena melapor ke Satpol PP tidak ada tindakan yang jelas, akhirnya mereka melapor ke Inspektorat Kota Semarang.

 

Menurut kepala Inspektorat Kota Semarang Cahyo Bintarum, pihaknya menerima laporan pada hari Senin (8/2/2017). Cahyo menyebutkan pihaknya langsung menindaklanjuti laporan ini.

 

"Korban ada tiga orang. Kalau jumlah pelaku masih dalam penyelidikan," kata Cahyo Bintarum, Kamis (2/3/2017).

 

Meski sudah mendapat laporan secara resmi, namun Inpektorat Kota Semarang justru menyerahkan penyelidikan kasus itu kepada internal Satpol PP Kota Semarang. Pihaknya menunggu hasil dari penyelidikan internal tersebut.

 

"Hasil dari penyelidikan internal baru diserahkan ke inspektorat untuk ditindaklanjuti lebih lanjut," kata Cahyo Bintarum.

 

Sedangkan Kepala Satpol PP Kota Semarang Hendro Pudyo Martono mengaku sudah menindaklanjuti kasus itu. Satuan provos Satpol PP sudah memeriksa para terlapor dan para pelapor. 

 

"BAP sudah lengkap, hanya saja unsur bukti dan saksi sangat minim," kata Hendro.

 

Hendro menyebutkan bahwa hasil pemeriksaan itu sudah diserahkan ke Inspektorat. Kasus itupun kini sedang ditangani dua lembaga di tingkat Pemerintah Kota Semarang. 

 

Berdasarkan informasi, ada tujuh pegawai honorer Satpol PP Kota Semarang yang diraba-raba organ vitalnya. Dari tujuh korban itu baru ada dua yang melapor secara resmi. Disuga korban-korban lain diancam akan dipermalukan dan disebar foto-fotonya.

 

Mata acara Jurit Malam dalam Latihan Kesamaptaan itu adalah upaya melatih para pegawai Satpol PP sebagai Caraka Linmas. Para peserta diwajibkan berjalan sendirian di malam yang sepi dan gelap. 

 

Salah satu pendamping korban, Hermansyah Bakrie, menyebutkan bahwa jika penanganan dua institusi di Pemkot Semarang lamban, ia akan mengadukan kasus ini ke Polda Jateng.

 

"Tidak cuma memegang payudara, diduga pelaku juga meminta korban melepaskan celana. Tapi korban menolak. Bahkan pelaku mengaku tidak sadar karena kesurupan," kata Herman. 

 

Indikasi bahwa Satpol PP Kota Semarang tidak ingin menuntaskan kasus ini adalah dengan meminta para korban menandatangani surat pernyataan untuk tidak menyebarluaskan tindak asusila ini. Namun demikian, para korban menolak tanda tangan. Sedangkan pihak inspektorat tidak bisa diharapkan karena menyerahkan penanganan kepada internal Satpol PP.

 

Sebelumnya, tujuh anggota Satpol PP Kota Semarang mengeroyok seorang anggota Polrestabes Semarang yang sedang berjualan sosis. Ketika itu dengan Brigadir Polisi Mahfud Wahyu Prasetya, meminta agar anggota Satpol PP bersabar karena dagangannya sedang dibereskan. Namun saat itu justru sang polisi dikeroyok ramai-ramai.

 

Kasus itu juga ditangani Satpol PP Kota Semarang secara internal, namun tak jelas ujung penyelesaiannya. Kemudian Brigadir Mahfud juga melaporkan ke Polrestabes Semarang, dan hingga kini penanganan kasus itu berhenti. 

 

Sebuah sumber di lingkungan Satpol PP menyebutkan bahwa kasus itu sudah dihentikan penyidikannya. Brigadir Mahfud sudah mencabut laporannya atas lobi Satpol PP.

 

"Saya yakin kasus ini juga tak akan berujung di pengadilan. Dulu dihentikan kasusnya dengan harapan tak terulang peristiwa yang memalukan. Tapi ternyata nggak ada efek jera. Saya yakin kasus ini tak akan berlanjut. Kasihan korban," kata sumber tadi. (BP-901)

 

Read 314 times