Friday, 19 January 2018

Metode Baru Memperpanjang Harapan Hidup Pasien Gagal Ginjal

Friday, 28 April 2017 10:24
Rate this item
(1 Vote)
Pengurus Daerah Ikatan Perawat Dialisis Indonesia Jawa Tengah saat Rapat Koordinasi Daerah beberapa waktu lalu Pengurus Daerah Ikatan Perawat Dialisis Indonesia Jawa Tengah saat Rapat Koordinasi Daerah beberapa waktu lalu

BodjongPolitan, Semarang - Jam menunjukkan angka 05.28 WIB, Jumat (28/4/2017) pagi. Namun di depan ruangan Heamodialisa Rumah Sakit Umum Wongsonegoro Kota Semarang sudah ramai antrean pasien. Mereka rata-rata berada di kursi roda, ditemani anggota keluarganya.

 

Sambil menunggu antrean, para pasien dan keluarganya itu berbagi cerita mengenai kondisi pasien masing-masing. Termasuk solusi jika ada permasalahan di rumah. Suasana hiruk pikuk obrolan itu berhenti. Ada kabar bahwa salah satu dari para pasien rutin itu meninggal dunia.

 

"Iya. Dibandingkan yang lain, Pak Suntono itu tergolong paling bugar. Tapi begitulah. Kematian itu rahasia. Upaya kita selain medis adalah dukungan keluarga," kata salah satu dari keluarga pasien gagal ginjal itu.

 

Gagal ginjal, saat ini masih menjadi hal yang menakutkan. Fungsi ginjal yang menurun atau malah berhenti sama sekali itu sampai sekarang baru bisa ditangani dengan haemodialisa atau cuci darah. Ginjal yang berfungsi menyaring racun dan mengeluarkannya itu diganti perannya oleh mesin dan tabung dialiser.

 

Agar harapan hidup para pasien yang harus menjalani cuci darah selamanya itu semakin panjang, Ikatan Perawat Dialisa Indonesia (IPDI) terus berupaya meningkatkan pengetahuannya. Menurut Kepala Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat DPP IPDI, Imam Hadi, pihaknya mendorong para perawat dialisa agar terus meningkatkan kualitas layanan. 

 

"Kami secara rutin menggelar workshop dan lokakarya keperawatan. Tujuannya meningkatkan kualitas layanan sehingga memperpanjang harapan hidup pasien," kata Imam di RSUD Wongsonegoro Kota Semarang, Jumat (28/4/2017).

 

Dijelaskan oleh Imam bahwa temuan terbaru dalam memperpanjang harapan hidup pasien adalah langkah yang diistilahkan GST (Group Support Therapy). Langkah ini bukan suatu tindakan medis standar, namun upaya pendekatan psikologis pasien dari keluarga maupun lingkungan.

 

"Dalam lokakarya Minggu (23/4/2017) di Magelang, dokter Bambang Jarwoto SP.PD-KGH sepakat dengan langkah ini. Yang perlu dan penting dilakukan adalah adanya dukungan keluarga dalam merawat pasien, jika itu dilakukan pasien akan semangat," kata Imam.

 

GST itu sendiri sudah dilakukan lebih luas di RSUD Wongsonegoro Kota Semarang. Bukan hanya keluarga pasien saja, namun menciptakan keluarga baru yang saling dukung. Keluarga baru itu terdiri dari Dokter, Perawat, Pasien, dan keluarga pasien.

 

Imam kemudian menunjukkan hubungan keluarga baru itu. Dimana antar pasien saling memberi semangat, demikian pula pasien dengan keluarga pasien lainnya, dokter, perawat, bahkan cleaning service dan teknisi mesin yang bertugas. Mereka memiliki posisi sederajat dalam hubungan sosial.

 

"Jika ada salah satu pasien yang drop semangatnya, yang lain akan memberi semangat. Seperti salah satu pasien kita yang sebatang kara, ketika opname dan tak ada yang mengurusi, kami semua dari dokter, perawat, administrasi, keluarga pasien lain justru ikut merawat seperti keluarga sendiri," kata Imam.

 

Metode itulah yang kemudian dirumuskan  oleh dr Bambang Jarwoto lebih sistematis. 

 

Frekuensi pertemuan keluarga baru yang dua kali seminggu itu, secara psikologis mampu menumbuhkan ikatan internal. Serupa jaring laba-laba, jika ada satu titik tersentuh, maka yang lain akan ikut bergerak.

 

Ketika para pasien haemodialisa masih menunggu selesainya mereka cuci darah mereka mengisi waktu dengan saling berbincang dan merencanakan takziah di rumah pak Suntono yang meninggal. Tak ada aba-aba, para pasien ataupun keluarganya itu spontan membuka dompet dan mengeluarkan sejumlah rupiah semampunya.

 

Metode ini terbukti ampuh. Rata-rata pasien gagal ginjal di RSUD Wongsonegoro memiliki harapan hidup lebih panjang, dibanding mereka yang kehidupan sosialnya lebih individual.  (BP-ED)

 

Read 200 times